Rabu, Agustus 17, 2022
Ragam

Pancasila : Simbol Kebhinekaan di Kaki Gunung Tambora

SUARABBC.COM, Dompu – Peringatan hari lahir Pancasila ke-75, tanggal 1 Juni tahun ini ditiadakan oleh Pemerintah akibat pandemi covid-19.

Kali ini kita tidak berbicara sejarah Pancasila dan perkembangannya, namun berbicara nilai-nilai luhur yang terkandung didalam Pancasila itu sendiri, dari sebuah wilayah kecil di Indonesia bagian Tengah.

Bagi para pendaki gunung, Tambora tidak lagi asing bagi mereka. Gunung ini berdiri kokoh diantara Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Jika para pendaki pernah menginjakan kaki sampai di puncak Tambora, mereka bisa menggunakan dua jalur pendakian yaitu jalur Doroncanga dan jalur Pancasila.

Jalur pendakian Doroncanga selama ini bisa menggunakan kendaraan seperti mobil Hartop (Jeep) dan bisa tembus sampai ke Pos 3, sedangkan jalur Pancasila pendaki hanya bisa berjalan kaki, dan pasti melewati Dusun Pancasila.

Dusun Pancasila merupakan salah satu daerah transmigrasi di Kecamatan Pekat warisan Orde Baru sekitar tahun 1970-an sampai 1980-an, sebagai bagian dari pemerataan penduduk waktu itu. Para transmigran yang kemudian menjadi penduduk disitu paling banyak berasal dari Lombok – NTB.

Baca juga :   Sekda Dompu bantah dana siluman 26 miliar : Itu hanya isu!
kapolsek pekat
Kapolsek Pekat IPDA Muh. Sofyan Hidayat bersilaturrahmi dengan masyarakat di Dusun Pancasila. (foto : Pian).

Dusun ini berada dalam wilayan administrasi Desa Tambora, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Letaknya sekitar 650 meter diatas permukaan laut (mdpl), denga jumlah penduduk sekitar 675 kepala keluarga.

Selain Pancasila, ada 4 Dusun lainnya dalam wilayan Desa Tambora yakni Dusun Garuda, Pancasila 01, Pancasila 02, Bhineka, dan Dusun Siladarma.

Pemilihan nama Pancasila yang disematkan untuk sebuah Dusun memiliki nilai sejarah, dimana pemberian nama tersebut diberikan oleh Gubernur NTB kala itu dalam kurun waktu 1980-an.

Kenapa harus Pancasila? Karena identitas itu dimaksudkan sebagai simbol kebhinekaan atau keberagaman, mengingat suku bangsa penduduknya yang beraneka ragam. Disitu didiami oleh masyarakat dari suku Bima, suku Sasak (Lombok), Jawa, dan suku Bali. “Selama ini mereka hidup berdampingan dengan aman, damai, rukun, dan penuh toleransi,” ujar Kapolsek Pekat IPDA Muh. Sofyan Hidayat.

Baca juga :   Malu dong Perwira pikul beras tapi polisi ini tidak!

Bukti kerukunan dan toleransi di Pancasila salah satunya berdiri kokoh ditengah mayoritas Muslim Pura Udaya Parwata, yang diresmikan oleh KSAU Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia pada tanggal 12 September 2014. Pura ini diyakini sudah berusia ratusan tahun, dan masih digunakan untuk peribadatan umat Hindu Bali.

pura
Pura Udaya Parwata, tempat peribadatan umat Hindu yang sudah berusia ratusan tahun. (foto : Asih Yudhiastri).

Mata pencaharian masyarakatnya mengandalkan dari sektor pertanian dan peternakan. Tidaklah heran jika di Pancasila berkeliaran ternak yang merumput.

Untuk mencapai ke Dusun Pancasila, para pendaki hanya bisa menggunakan sepeda motor.

Sementara akses pintu masuk memasuki wilayah Kabupaten Dompu kemudian menuju Pancasila bisa melalui pelabuhan Poto Tano di Sumbawa dan Bandar Udara Sultan Salahuddin di Bima.

Jika pendaki masuk dari Poto Tano, harus melanjutkan perjalanan darat sekitar 9 jam menggunakan mobil atau motor. Sementara kalau masuk melalui Bandara Bima, mereka harus melanjutkan perjalanan dengan menumpang bus umum, mobil carteran atau Taxi dengan lama perjalanan sekitar 5 jam. (my).

Related Posts

You cannot copy content of this page