Minggu, November 27, 2022
Advertorial

Kampung KB Fokus Dalam Penanganan Stunting Untuk Mencapai Masyarakat Sejahtera

SUARABBC, Dompu – Dinas Pengendalian Penduduk dan KB, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, melalui Bidang Pengendalian Penduduk dan KB terus berupaya menangani stunting pada anak anak di Desa yang yang menjadi Lokus Kampung KB.

Dijelaskan Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan KB DPPKB Yayat Nurhidayat, S.KM., “Kalau kita berbicara masalah Stunting masalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting itu sendiri terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun”.

Selain pertumbuhan terhambat, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk.

Untuk penanganan stunting itu dilakukan melalui kegiatan sosialisasi pola hidup sehat di masyarakat. Pola hidup sehat salah satunya asupan gizi yang cukup dan seimbang bagi anak anak.  

Selain itu, juga sosialisasi dibeberapa Desa dengan tema 1000 HPK atau hari kehidupan pertama bagi anak, karena penanganan stunting diakuinya juga tidak terlepas program DPPKB seperti pembinaan di Kelompok-Kelompok BKB (Bina Keluarga Balita), karena DPPKB bukan saja mencari siapa yang ingin ber KB, tetapi bagaimana masyarakat itu Sehat dan Sejahtera,” ujar Yayat, Senin, 23 September 2019.

Baca juga :   Tim Meninjau Persiapan Awal Pembangunan Puskesmas Dotim

Dia kemudian mengungkapkan kondisi riil di lapangan kenapa banyak terjadinya stunting. Stunting di Dompu banyak muncul karena kesalahan dalam asuhan, pola makan. Artinya, orang tua rata-ratadi beberapa Desa yg menjadi Lokus stanting lebih banyak memberikan uang jajan kepada anak anaknya dibanding memberikan asupan gizi yang seimbang, sehingga anak anak banyak yang membeli cemilan untuk di makan. Contohnya, banyak sekali anak anak yang membeli makanan di kios kios seperti Citato, Citos, Taro dan sejenisnya, dimana dalam makanan tersebut banyak bahan kimianya dan kalau kita makan akan terasa cepat kenyang, sehingga vitamin dan kalori sama sekali anak anak tidak mendapatkannya, dan dicemilan tersebut banyak kandungan Fitcin. Padahal kandungan fitcin bisa mengakibatkan kerusakan otak, sumber kanker dan dapat menyebabkan kelumpuhan.

Dijelaskan, ada beberapa faktor sehingga munculnya stunting, pertama faktor ekonomi, terus yang kedua banyak masyarakat yang menitipkan anak nya kepada tetangga atau kepada pengasuh karena mereka (orang tua) pergi ke lahan. Pada saat itu, pola makan anak tidak terpantau. Lalu ketiga banyaknya masyarakat yang menjadi TKW dan meninggalkan anaknya untuk hidup dengan nenek dan kakek nya, termasuk juga dengan tingkatnya angka Perceraian dapat mengakibatkan anak anak stunting.

Baca juga :   Sekda apresiasi pelayanan PKM Dompu Timur dan Dompu Barat

Di Dompu, ada beberapa Desa yang menjadi locus stunting sambung dia, yaitu Desa Riwo, Bakajaya, O`o, Katua, Ranggo, Desa Sorinomo, dan Desa Cempi serta Desa Daha. Lokus stunting ditetapkan oleh Dikes Kabupaten Dompu.

Desa yang didalamnya terdapat stunting diketahui pada saat pencanangan kampung KB. Di Dompu ada 19 Desa kampong KB. “Tau tau nya didalam pencanangan kampung KB itu, ada Desa sebagai locus untuk penanganan stunting,” terang Yayat.

Sejarah kampung KB sendiri awal penancangannya karena pertama daerah tertinggal, dan kedua masih kurangnya partisipasi untuk ber KB, dan itu di tahun 2017. Kemudian pencanangan tahun 2018 di fokuskan bagi Desa desa yang stunting. “Ada 10 Desa di 2018 yang kami canangkan untuk masalah stunting. Pada saat pencanangan itu juga, kami sudah menetapkan Bapak dan Ibu stunting,” ujar Yayat.  

Menurut UNICEF, stunting didefinisikan persentase anak anak usia 0 sampai 59 bulan dengan tinggi dibawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standard pertumbuhan anak keluaran WHO. (my/*).

Related Posts

You cannot copy content of this page