Oleh: Asyari Usman*
Harga peswat radar itu US$500 juta –Rp8.5 Triliun. Amerika Serikat (AS) pernah punya 32 unit. Dalam beberapa tahun ini hanya tinggal 17 unit. Sejak 27 Maret 2026, tinggal 16 unit. Satu unit terpotong dua terkena hunjaman drone Iran pada saat pesawat mahal itu berada di Pangkalan Udara (PU) Prince Sultan, Arab Saudi.
Itulah pesawat radar yang diberi nama Airborne Warning and Control System (AWACS). Badan pesawat ini sama dengan Boeing 707 jenis E-3G Sentry. Fungsinya sangat penting. Yaitu, mengatur kordinasi serangan udara. Awacs bisa menangkap posisi 600 objek musuh sekaligus dan meneruskan informasi itu secara real time (saat itu juga) kepada unit-unit tempur AS yang berada di udara, laut maupun darat yang akan mengambil tindakan. Artinya, tanpa Awacs maka satuan tempur AS tidak efektif.
Yang sangat mengagumkan adalah presisi drone Iran yang menghantam pesawat Awacs itu. Hujaman drone persis di posisi radar putar di bagian belakang pesawat. Radar itu terletak di luar badan pesawat, bagian atas. Bagian yang termahal itulah yang dihantam dengan presisi tingkat dewa. Luar bisasa teknologi rudal dan drone buatan Iran.
Sebelum ini, Iran telah menghancurkan target yang nilainya lebih tinggi. Yaitu, radar AN/FPS-132 yang berharga US$1.1 miliar (Rp18.7 triliun) di Qatar dan dua radar AN/TPY-2 yang harganya satu unit sekitar US$700 juta (Rp12 triliun). Tetapi, yang paling bernilai tinggi adalah pesawat Awacs E-3 itu.
Militer Iran cerdas. Ada dua komponen tempur yang paling penting bagi pergerakan militer AS. Dua jenis pesawat militer ini menjadi prioritas untuk dilumpuhkan. Yang pertama, radar terbang. Yang kedua, pesawat tangki untuk mengisi BBM pesawat tempur di udara.
Dalam serangan terhadap PU Prince Sultan, setidaknya tiga pesawat tangka KC-135 Stratotanker ikut musnah. Harganya cuma US$53 juta (Rp900 miliar) satu unit. Sebelum serangan 27 Maret itu, Iran juga telah menggempur Prince Sultan pada pekan kedua Maret. Setidaknya 5 pesawat tangki KC-135 hancur. Iran juga menembak jatuh 1 KC-135 di wilayah udara mereka.
Kehancuran 9 pesawat tangki KC-135 ini menyebabkan pesawat tempur AS mengalami kesulitan untuk melancarkan serangan dari jarak jauh. Sebab, semakin jauh jarak yang ditempuh, semakin diperlukan KC-135.
Karena peran kedua jenis pesawat ini sangat vital, Iran memprioritaskan gempuran terhadap berbagai pangkalan militer AS di sejumlah negara Teluk termasuk Saudi, UEA, Kuwait, Qatar dan Bahrain. Dan bagi Iran, menyerang pangkalan militer AS di mana pun juga menjadi sah. Kerusakan pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah menambah berat kesulitan yang mereka alami.








