Tentu saja secara keseluruhan kekuatan Israel dan AS (Isas) masih tetap unggul. Namun, ada satu hal yang membuat Isas tegang. Mereka tidak tahu persis seberapa banyak lagi senjata utama Iran, yaitu rudal (balistik atau jarak pendek) dan drone, yang masih tersedia untuk melanjutkan perang sampai berbulan-bulan. Yang jelas, Iran mengatakan mereka siap berperang melawan Isas sampai lebih dari 6 bulan bahkan mampu bertahan satu tahun.
Presiden Donald Trump akan semakin pusing. Sebab, dia tidak punya banyak waktu untuk melanjutkan perang terhadap Iran. Desakan politik domestik dan internasional semakin memojokkan Trump. Nyaris tidak ada lagi dukungan rakyat AS. Sementara dukungan sekutunya, terutama NATO, semakin lemah.
Harus diakui, Iran dahsyat. Apakah Iran menang? Tergantung dari mana kita melihatnya. Kalau dilihat dari kombinasi kekuatan udara Israel-AS (Isas), pasti orang akan bilang Iran remuk redam. Tapi itu tidak terjadi. Sebaliknya, Iran masih bisa menggempur wilayah Israel langsung dari titik-titik peluncuran rudal mereka.
Tidak ada yang bisa memprediksi kekuatan Iran. Tapi, Trump telah menunjukkan kesiapan untuk berdamai. Meskipun dia setengah memaksa Iran, dan Iran selalu santai saja. Apakah gaya santai Iran itu bisa diartikan bahwa mereka kuat? Kalau saya bilang: iya. Iran kuat.
Selama 40 tahun lebih negara itu dikenai embargo. Namun, mereka bisa memproduksi berbagai rudal hebat generasi demi generasi. Bahkan sebagian rudal itu sudah kedaluarsa. Dan mereka berhasil menciptakan generasi baru yang berjarak di atas 4,000 km, lebih ekzsplosif, serta lebih efisien.
“Iran bukan Irak, bukan Venezuela,” kata banyak pengamat militer internasional. Untunglah belum ada yang mengatakan, “Iran bukan Irak, bukan Venezuela, bukan Indonesia,”.
*Jurnalis Senior, Freedom News








