Dompu [EDITOR I News] – Para petani tembakau di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, tahun ini puas karena memetik hasil melimpah.
Selain produksi tembakau yang bertambah, harga komoditi juga tidak mengecewakan petani. Mereka pun mendulang cuan berlimpah.
Total produksi tembakau diungkapkan Kabid Perkebunan (Kabidbun), Dinas Pertanian dan Perkebunan, Kabupaten Dompu, Abdul Khair, hingga akhir masa panen bulan November kemarin mencapai 854.987 kilogram dari total luas lahan 1.114 hektar.
Sedangkan tahun kemarin, luas areal tanaman tembakau hanya sekitar 700 hektar.
“Artinya, tahun sekarang mengalami peningkatan sekitar 400 lebih,” ujar Kabidbun papi Dudin, Senin (08/12/2025).
Hasil produksi di atas lanjut dia, berasal dari petani swadaya dan mitra perusahaan PT. Sadana, yang tersebar di lima wilayah kecamatan yakni kecamatan Hu’u, Pajo, Woja, Manggelewa, dan Pekat.
Sementara harga per kilogram berdasarkan gradenya, untuk grade P berada di kisaran 20 sampai 25 ribu rupiah. Kemudian 25 sampai 30 ribu grade F, dan untuk grade S lumayan lebih mahal dihargai 30 sampai 40 ribu rupiah per kilogram. Harga dimaksud menguntungkan petani.
Untuk petani swadaya, pangsa pasar mereka berasal dari pembeli lokal seperti pengusaha dari pulau Lombok dan Jawa.
Distanbun sebagai dinas teknis terang papi Dudin, punya tanggung jawab memberikan penyuluhan, pendampingan, dan bantuan apalagi kepada petani swadaya. Tanggung jawab ini tujuannya membantu petani sekaligus menjawab segala persoalan yang mereka hadapi.
Sedangkan petani mitra perusahaan, hasil panen mereka langsung dibeli oleh perusahaan dengan harga dan kualitas yang sudah ditentukan perusahaan.
Karena menjadi petani mitra perusahaan, disini sambungnya lagi, mereka dapatkan fasilitas dari perusahaan berupa kredit benih, mulsa (plastik pembungkus bibit), obat obatan saprodi. Pengembaliannya akan dipotong saat penjualan hasil.
Dia pun merincikan jumlah paket hutang petani ke perusahaan. Contoh, sampai dengan 5 juta rupiah per satu hektar untuk petani pemula. Kalau ditambah kredit mesin perajang dari perusahaan mitra bisa sampai Rp15 juta. Tetapi pengalaman selama ini hasil panen bisa tembus 60 juta per hektar, dengan total lebih kurang 4 bulan pembibitan sampai panen.
Namun disini papi Dudin menegaskan, tanpa membedakan antara petani swadaya dengan petani mitra perusahaan, bisnis komoditi bahan pokok pembuatan rokok itu sangat menggiurkan. Mengingat potensi lahan, hanya dengan luas lahan 50 are, petani sudah bisa mendapatkan keuntungan karena penjualan tembakau selama musim tanam bisa 3 sampai 4 kali dengan harga yang sangat bagus. (/*).









