Rabu, Agustus 17, 2022
Peristiwa

Memburu bonsai berujung maut

Editor, Dompu – Ahmad Zulaimi, anak berumur 10 tahun meregang nyawa di sungai. Maut menjemputnya saat mencari kayu serut di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat.

Paur Subbag Humas Polres Dompu
AIPTU Hujaifah, Jum’at, 27 November 2020 menceritakan, peristiwa naas menimpa bocah laki-laki itu berawal ketika korban bersama dua temannya berangkat menuju areal hutan dibelakang perkampungan setempat, tujuannya mencari jenis kayu serut untuk dijadikan tanaman kerdil (bonsai), sekitar pukul 15.30 Wita.

Sesampai di tempat yang dituju, mereka berjalan berbaris mengikuti jalan setapak, dimana korban berada paling belakang. Dari kejauhan korban sudah melihat kayu yang diburu, tiba-tiba korban bergegas dan mendahului dua rekannya menuju ke tempat tersebut.

Belum lama meninggalkan dua rekannya, tiba-tiba terdengar teriakan korban dan suara mirip dentumam air. Teman korban pun berlari cepat mendatangi sumber teriakan. Setelah dilihat, ternyata korban terpeleset di tebing dan jatuh kedalam sungai dari ketinggian sekitar 20 meter.

Baca juga :   Anggota alami luka robek, HMI Dompu kutuk tindakan represif Polisi

Kedua sahabat pun turun menuju ke sungai dan berusaha menolong korban uang sudah tenggelam dengan cara menarik kaki korban. Berkali kali keduanya berjuang menolong sahabatnya namun tetap gagal. “Karena terus gagal, akhirnya mereka memutuskan untuk meminta pertolongan masyarakat dan kembali ke perkampungan,” jelas Hujaifah kepada Editor.

Kapolsek pimpin evakuasi

Mengetahui ada laporan dari masyarakat, Kapolsek Pekat IPDA Muh. Sofyan Hidayat langsung menggerakkan anggota dan masyarakat menuju tempat kejadian di sungai Dusun Gunung Batu, Desa Pekat, Kecamatan Pekat. Di lokasi kejadian, Kapolsek memimpin langsung anggotanya dibantu masyarakat untuk proses evakuasi dari dalam sungai, dimana kondisi Zulaimi sudah tidak bernyawa.

Setelah evakuasi berhasil, mayat kemudian dibawa ke rumah korban dengan kondisi mulut berbusa serta luka di pelipis bagian kiri.

Baca juga :   Satu keluarga ini mendadak menangis histeris, ternyata…

Orang tua korban Tahir (64) dan Rianim (50) tidak bisa berkata apa-apa, keduanya ikhlas menerima kejadian tersebut sebagai musibah. “Dan mereka pun menolak anaknya untuk diautopsi,” sambung dia.

Pada kesempatan tersebut, Kapolsek Pekat menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban. Dirinya pun menghimbau masyarakat agar menjadikan musibah ini sebagai pembelajaran bagi para orang tua untuk lebih memperhatikan dan mengontrol aktivitas anak anaknya agar tidak terjadi hal-hal yang berisiko seperti yang dialami korban.

Related Posts

You cannot copy content of this page