Selasa, September 27, 2022
Pariwisata

Mengembangkan wisata di tanah leluhur

SUARABBC.COM, Dompu – Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat memiliki catatan sejarah yang begitu panjang. Sebelum menjadi daerah Kabupaten, di masa proto sejarah hanya ada kelompok-kelompok kecil di masyarakat atau suku. Kemudian kepala suku nya digelari Ncuhi.

Zaman Ncuhi merupakan zaman proto sejarah (dari pra sejarah) menuju sejarah. Setelah Ncuhi barulah masuk zaman sejarah, dimana sudah berdiri kerajaan-kerajaan seperti Dompo dan Daha, yang dipimpin oleh Raja atau Sultan.

Setelah kerajaan (masa sebelum kemerdekaan) Dompu merupakan daerah Swapraja Tingkat II, tapi bagian dari Provinsi Sunda Kecil.

Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia dengan mengalami beberapa proses perubahan sistem ketatanegaraan, barulah terbentuk daerah Swantara Tingkat II Dompu, kemudian secara resmi mendapat status sebagai Daerah Swapraja sejak tanggal 12 Desember 1947, dan pada saat itu diangkat Sultan Dompu terakhir yaitu Sultan Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin sebagai Kepala Daerah Swapraja Dompu. Dan sekarang Dompu adalah daerah Kabupaten.

Ncuhi adalah kepala suku atau figur yang memiliki kesaktian dan pemimpin berkharisma tradisional ditengah masyarakat kala itu. Sebelum Dompu memasuki masa Kerajaan, wilayah Dompu terbagi kedalam kekuasaan para Ncuhi. Mereka mendiami dan menguasai wilayah-wilayah pegunungan dan sekitarnya.

Penyematan nama para Ncuhi identik dengan wilayah kekuasaannya. Salah satu Ncuhi di Dompu adalah Ncuhi Saneo.

Saneo kini berubah wajah menjadi sebuah Desa yang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Woja.

Walaupun Saneo masih belum popular sampai ke mancanegara, namun Gubernur NTB sudah memberikan legitimasi hukum dengan dikeluarkannya Peraturan Gubernur NTB tahun 2019, dimana Saneo ditetapkan sebagai salah satu Desa Wisata diantara 99 Desa lainnya di NTB.

Baca juga :   Pelatihan tatakelola destinasi pariwisata

Destinasi wisata alam Saneo memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan seperti air terjun Sori Panca yang eksotis. Kemudian pesona alam dari suguhan menawan Sori (sungai) Na`e, serta kekayaan wisata budaya, menjadi daya jual tersendiri bagi Saneo dari sektor pariwisata. Anugerah Tuhan ini sayang kalau tidak dikelola maksimal.

Berangkat dari rasa kepedulian yang tinggi, Rifad Bangkit dari Kapahu Dompu, sebuah lembaga yang konsen di bidang wisata dan budaya,  bersama kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Desa Saneo memiliki keinginan kuat ingin mengembangkan destinasi wisata di daerah yang dulunya dipimpin oleh Ncuhi.

sori nae
Sori Na`e. (foto : detik/faruk).

Dibawah bendera Kapahu dan Pokradis Desa Saneo, mereka memiliki konsep memajukan  spot-spot wisata melalui pemetaan. Pemetaan ini sebagai penunjang pengembangan destinasi wisata Sori Panca, karena wisata ini yang ingin di garap lebih dulu.

Keinginannya bukan saja air terjun Sori Panca yang diviralkan, tetapi ada potensi lain yang mau dikembangkan seperti wahana outbond, camping ground, dan water tubing.

Lalu mengapa wisata alam yang diurus duluan, alasannya karena di Saneo memiliki 11 titik air terjun, apalagi air terjun Sori Panca punya ciri khas yaitu air terjun tertinggi di NTB, dengan ketinggian hampir 100 meter. Dalih lainnya, berdasarkan cerita masyarakat setempat, bahwa ada air terjun yang berkaitan dengan sejarah Saneo.

Baca juga :   Cinta Lady Diana di 'Queen Waterfall' Pulau Moyo

Untuk menunjang wisata alam, juga akan dikembangkan pula wisata sejarah dan budaya. Di wisata ini terdapat peninggalan pra sejarah berupa kuburan, kampong lama (tua), dan batu kendi.

Dalam adat masyarakat Saneo, sampai sekarang masih kental budaya dan tradisi seperti suna ra ndoso (Sunatan) dengan sajian sesajen yang tingginya setinggi rumah. Penunjang lainnya akan dikembangkan wisata susu kuda liar dan madu alam.

Pengembangan wisata susu kuda liar sepertinya tidak akan mengalami kendala, karena susu kuda liar Saneo sudah memegang sertifikat indikasi geografis yang dikeluarkan oleh Kementerian Hukum dan HAM, artinya Saneo sudah memiliki ikon yang dikenal di pusat.

Diungkapkan, yang tidak kalah penting dari konsep mengembangkan wisata, pihaknya akan berupaya untuk menjaga kelestarian hutan, mengingat kondisi hutan di sekitar Saneo sekarang ini cukup memprihatinkan akibat dari perambahan yang dilakukan oleh masyarakat.

Untuk mengembalikan fungsi hutan yang bernilai ekonomis, mereka akan menggarap dan menyulap menjadi kebun wisata. Kebun tersebut akan menghasilkan hasil hutan bukan kayu seperti buah-buahan.

Diakuinya, dukungan pemerintah memiliki peran strategis dari rencana mereka, minimal pemerintahan Desa.

Rencana mereka seperti peribahasa gayung bersambut, karena Kepala Desa selaku unsur pemerintahan di Desa memberikan respon yang baik, bahkan merencanakan akan mengeluarkan Peraturan Desa soal Desa Wisata. (my).

Related Posts

You cannot copy content of this page